Kota Garam, 19 Februari 2015
#30HariMenulisSuratCinta#Harike-21
Jemarimu masih bungkam?
Mereka masih pura-pura diam
Ayolah,
Siapalagi yang bisa membalut sajak-sajak rindu selain dirimu
Sajak-sajak luka dengan pita merah jambu
kalau bukan kita?
Aku terlalu terbiasa
mengukirkan cinta kepada sajak-sajak
terlebih sajak-sajakmu
ya sayangnya sekarang bisu, kaku
Senja tenggelam
langit berangsur kelam
entah bila larik-larik sajakmu tak lagi enggan
melukiskan riak-riak merah meriah pada malam
Sayang
Aku sungguh lupa pernah membahasakan hujan
lewat aksara yang hangat?
kau sungguh lupa aku akan selalu ingat?
Sajakmu tetap bungkam
sesal-sesal berjelaga di tenggorokan
aku kini lelah menyuarakanya lewat tangisan dan tulisan
atau sekedar bisikan
Siapa sangka sajakmu mendingin
serupa kopi yang ku aduk tadi pagi dan ku tinggal mandi
mereka kekal amarahmu hanya sisakan pahit getir, kini.
#30HariMenulisSuratCinta#Harike-21
Jemarimu masih bungkam?
Mereka masih pura-pura diam
Ayolah,
Siapalagi yang bisa membalut sajak-sajak rindu selain dirimu
Sajak-sajak luka dengan pita merah jambu
kalau bukan kita?
Aku terlalu terbiasa
mengukirkan cinta kepada sajak-sajak
terlebih sajak-sajakmu
ya sayangnya sekarang bisu, kaku
Senja tenggelam
langit berangsur kelam
entah bila larik-larik sajakmu tak lagi enggan
melukiskan riak-riak merah meriah pada malam
Sayang
Aku sungguh lupa pernah membahasakan hujan
lewat aksara yang hangat?
kau sungguh lupa aku akan selalu ingat?
Sajakmu tetap bungkam
sesal-sesal berjelaga di tenggorokan
aku kini lelah menyuarakanya lewat tangisan dan tulisan
atau sekedar bisikan
Siapa sangka sajakmu mendingin
serupa kopi yang ku aduk tadi pagi dan ku tinggal mandi
mereka kekal amarahmu hanya sisakan pahit getir, kini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar