Sabtu, 31 Januari 2015

Perempuan Meja Nomor 29

                                                                                                    Kota Garam, 31 Januari 2015
#30HariMenulisSuratCinta#Harike-2

Sore ini senja tampak ranum dikotaku, seharian hujan deras mengguyurnya.
Ini pukul 17.15 burung-burung mulai pulang kesarangnya, tapi tidak bagi perempuan ini ia malah keluar rumah untuk menikmati senja di teras kota.
 Secangkir coffee ia pesan pada seorang pelayan. 
 " Pesan apa, nona? " Tanya pelayan pada perempuan itu.
 " Coffee, tanpa gula tentunya," Jawabnya Singkat.
 " Ada lagi? " Pelayan itu menawarkan pesanan lagi.
 " Tidak, Terimakasih." Jawabnya kembali.
 " Baik, silahkan tunggu sebentar pesanan segera datang " Pelayan itu menjauh pergi.


Kesedihan itu ibarat kita meminum coffee, bagaimanapun rasa pahitnya tetap kita nikmati.
 


Jumat, 30 Januari 2015

Hai, Salam Kenal ( Tukang Pos )

                                                                                                         Kota Garam, 30 Januari 2015

#30HariMenulisSuratCinta#Harike-1

Perkenalan tanpa jabat tangan, menyapa tanpa bertatap mata.

Hai.. pemilik user name @adimasnuel
Salam kenal .....  :) 
Tukang Pos.

Terimakasih telah menjadi partner 30 hari kedepan kak dalam #30HariMenulisSuratCinta.
Semoga kita menjadi tim kerja yang baik. :)

Tak banyak aku ingin memperkenalkan diri cukuplah dari perempuan pembenci asap rokok ini.

         Sekian dan Trima kasih :) 

Rabu, 28 Januari 2015

Usir segala cemas

Jika ada mentari pagi yang lebih pagi, mungkin itu kamu
Tapi jika ada rumah singgah yang lebih hangat dari rumahku mungkin itu tidak aku
Sesampainya kau berlabuh di dermaga, mohon pulanglah menuju dadaku
Tak harap banyak, cukuplah segala cemas yang aku takutkan terbayar lunas
                 Gementangku bersinar terang
               
Usir segala cemas
                 Rindu ini ingin ku jabarkan 
Biarlah seperti ini karena ini bahagiaku
Andai ini mimpi teruslah menjadi mimpi mungkin aku ingin selamanya tetap bermimpi

 

Minggu, 25 Januari 2015

Bahasa Matamu

Aku rindu gelagat malu yang dibahasakan matamu.
Nona, masihkah lesung pipit itu ada padamu? Lesung pipit yang ketika kau tersenyum membuat hatiku tak menentu.
Masihkah hangat dekapanmu ketika memeluk?
Aku rindu pelukmu ketika aku merengek ingin dimanja olehmu nona.

           Katamu disuatu senja hagat itu akan nyata.
                      Lama kita tak jumpa.
Masihkah kau menggigil ketika cuaca dingin mengguyurmu? Pakailah jaket hangat semoga kesehatanmu baik-baik saja.
Masihkah kau pemilik debar yang handal,Nona?
                         Aku rindu manjamu.

Suatu saat seandainya kita bertemu aku berjanji tak akan tanyakan perihal kesakitan itu.




Selasa, 20 Januari 2015

Apakah, Ataukah, Adalah .... ( Itu Aku )

Siapa yang nantinya akan kehilangan dari ketidakpedulian ini?
Apakah pagi yang kerap riuh oleh sapa kita?
Apakah siang yang senantiasa mengobati rindu kita meski sesaat?
Apakah senja yang selalu ada untuk kita kembali menuai anak-anak rindu yang terlahir?
Ataukah, malam yang tak jarang menyelimuti kita dalam doa sebelum pejam?

Adalah perempuan yang pernah kau sebut sebagai perempuanmulah, yang akan merasakan mati pada tiap-tiap waktu yang telah tersebutkan.

Minggu, 04 Januari 2015

Hujan dan caraku mencintaimu

Aku pernah mendengar tangismu ketika hujan 
Di sebuah pagi tanpa matahari 
Kemudian aku berjanji akan jatuh untukmu setiap hari 

Menjaga keningmu dari setiap luka yang berusaha mengecupnya
Memejamlah sayang 
Ingin rasanya mengajarkan kesedihan ini berbicara
Agar kamu tahu, tak pernah ada jeda untuku mencintaimu

Sabtu, 03 Januari 2015

Terimakasih pada sepasang lengan yang berpeluk

Dadamu adalah kota dengan langit paling biru, langit yang menaungiku dari segala cemas, takut dan sakit.
Disini disudut kirinya, kita membangun sebuah rumah.
Empat tiangnya yang kokoh adalah janji-janji yang diabadikan musim.
Didalamnya matahari terbit tanpa tahu terbenam.
Dua buah boneka kau buat, lucu sekali tawanya
Kau ajarkan mereka tentang kasih sayang, kau bimbing mereka dengan segala pengorbanan
Kau bilang pada mereka " Jangan pernah menangis nak, laki-laki harus kuat tak boleh cengeng, almarhum ibumu yang mengajarkan begitu "