Sabtu, 28 Februari 2015

Terimakasih ( Tukang Pos ) ku

                                                                                                            Kota Garam, 28 Februari 2015

#30HariMenulisSuratCinta#Harike-30

Terimakasih tukang posku  kak @adimasnuel

Terimakasih telah menjadi partner 30 hari dalam #30HariMenulisSuratCinta.
Terimakasih telah mengirim-kan surat-suratku walau kadang tak tepat waktu

Ini kala pertama kali di tahun ini saya menulis full selama tiga puluh hari
Walaupun kadang bingung mau nulis apa :D
Kalian tahu, saya senang.
Bahkan tak menyangka bahwa saya bisa menyelesaikan tantangan menulis surat.
Walau surat-surat saya tak ada yang masuk di dalam blog Pos Cinta, setidaknya saya konsisten menulis surat, bukankah itu yang penting?

Dan maaf saya tidak bisa ikut serta dalam gathering tiga puluh hari menulis surat cinta
Karena keadaan tertentu.

Sekali lagi terimakasih kak @adimasnuel  terimakasih banyak (jabat tangan)

Jumat, 27 Februari 2015

Wafatnya perempuan yang diabaikan

                                                                                             Kota Garam, 27 Februari 2015

#30HariMenulisSuratCinta#Harike-29



          Pulanglah kekasihku ceritakan pada ingatanmu, aku baik-baik saja
          Pulanglah kekasihku, pulanglah kehati yang mendo'akan kebahagiaanmu

Ada yang ingin ku sampaikan padamu, entah apa, aku lupa sebelum mengatakanya
Ada yang ingin ku bisikan ke telingamu, entah apa aku lupa sebelum senja berubah menjadi gulita
Ada yang ingin ku katakan padamu, entah apa aku lupa sebelum cinta memberiku luka


Siang ini seorang perempuan di temukan mati bersama sajak-sajaknya.
Bait-bait yang di tulis seketika gugur 
Mendayu-dayu masuk ke alam kubur

Kamis, 26 Februari 2015

Panggilan yang sama

                                                                                             Kota Garam, 26 Februari 2015

#30HariMenulisSuratCinta#Harike-28

Selamat sore kakak cantik Rena Kharisma
Pada suratmu yang ke-26 di #30HariMenulisSuratCinta aku suka sekali pada judul " Kepada Fa "
Entah kenapa kak, baru membaca judulnya saja aku sudah jatuh cinta, melihat isinya ialah kekagumanmu pada sosok laki-laki yang kakak sebut sebagai " Fa " sungguh kak, aku hanyut di dalamnya.

Kekaguman kakak pun yang aku rasakan saat ini, pada sosok laki-aki yang ku kagumi ini " Fa " iya aku memanggilnya pun sama seperti kakak.
Ia laki-laki pemilik mata senja menurutku, pemilik senyum matahari, pemilik debar purnama.

" Entahlah tentangmu aku masih sampai batas menerka "


                                                                                     Sekian dariku kakak cantik



                                                                                                Hati_Tunggal

Rabu, 25 Februari 2015

Barangkali itu cinta

                                                                                                   Kota Garam, 25 Februari 2015

#30HariMenulisSuratCinta#Harike-27

Barangkali itu cinta,
Ketika getaran bening  itu datang
Ketika cahaya matamu mendamaikanku ...

Barangkali itu cinta,
Ketika hanya bening wajah telaga yang hadir
Bahkan kata, kalimat dan sajak
Tak akan pernah sanggup menyelaminya ....

Pastilah itu cinta (Nya) ....
Untuk menghadirkan
Engkau
Aku
Ruang dan waktu

Karena cinta seperti yang telah di gariskan
Jauh sebelum kita ada
Dan yang telah di gariskan telah hadir
Jauh sebelum kita lahir
Dari kuasa cinta (Nya)

Selasa, 24 Februari 2015

Isyarat senja

                                                                                                      Kota Garam, 24 Februari 2015

#30HariMenulisSuratCinta#Harike-26

Teruntuk wajah bening telaga yang selalu menghantarku pada sesuatu yang indah.
Aku tak akan melupakan mata itu : bola mata coklat indahmu
Seperti isyarat yang di sampaikan pada senja
Pada awal pertemuan kita

Dan cahaya matamu menuntunku masuk kedalam damai
Seperti peraduan hangat
Dan aku nyaman berada di sana : di pelukmu

Senin, 23 Februari 2015

Terimakasih kepada diriku sendiri

                                                                                             Kota Garam, 23 Februari 2015

#30HariMenulisSuratCinta#Harike-25

Buku sudah tamat dan pintu sudah ditutup. Rapat.
Hari pun sudah berlalu.
Saya dahulu pernah meyakini.
Teramat yakin sampai tak mampu terpatahkan.
Hingga keyakinan itu terkikis perlahan.
 Habis terkhianati ragu. Dulu saya punya banyak percaya.
Terlampau percaya.
Sampai kepercayaan itu perlahan menjadi kabur.
Seperti pandangan mata yang digenangi air mata.
Ketika saya memutuskan untuk pergi.
Saya berpikir.
Kepergian ini akan memberikan saya waktu untuk berpikir banyak.
Menimbang kembali.
Kemudian saya menyadari bahwa saya sudah tak lagi merasa mampu untuk berusaha.
Tenaga sudah habis untuk memperjuangkan sesuatu yang bahkan tak mau bersusah payah mempertahankan diri saya.
Bukan lagi hati yang mendung dan hujan deras di mata yang ingin saya rasakan.
Tidak satu kali lagi.
Pun beribu kali.
Ada kebahagiaan didepan mata yang tengah saya kejar.
Ada mimpi yang saya ingin wujudkan.
Ada suatu kehidupan baru yang teramat ingin saya jalani.
Ada harapan yang sedang aku tata dengan perlahan.
Maka, maaf, tapi jangan. Tolong jangan lagi datang dan mengusik.

" Aku tidak bangga ketika meninggalkan kita, tapi aku berterimakasih pada diriku sendiri untuk itu. "

Minggu, 22 Februari 2015

Kosong

                                                                                                    Kota Garam, 22 Februari 2015
#30HariMenulisSuratCinta#Harike-24










                               KOSONG

Sabtu, 21 Februari 2015

Februari membeku

                                                                                                          Kota Garam, 21 Februari 2015

#30HariMenulisSuratCinta#Harike-23

Februari membeku terlalu dini
Senja muram sebab rindunya kepada mentari jingga tak jua jumpa
Di sini aku
Diantara rinai yang tajam menghujam tanah beranda
Tempat kau mengucapkan " Selamat berpisah "
Sedang melipat menit demi menit hingga yang tersisa hanya kecil-kecil desah napas detik
Berulang-ulang
Begitu terus sampai otak ku memekik
Hatiku membeku terlalu dini
Ia muram
Aku pun mati sesudahnya

Jumat, 20 Februari 2015

Lebih lama dari senja

                                                                                                          Kota garam,  20 Februari 2015

#30HariMenulisSuratCinta#Harike-22

Seminggu yang lalu
Tepat di senja serupa ini
Garis senyumu sangat hafal ku kenal
Sebentar saja aku merapikan ujung lengan bajuku, kau menghilang
Di ujung jalan persimpangan

Lain kali
Ketika aku pulang
Barangkali ujung lengan bajuku harus aku musnahkan terlebih dahulu
Agar tatapan mata kita lebih lama dari itu
Agar ujung butir mataku tak mengeluarkan butiran bening

Kamis, 19 Februari 2015

Sajak kopi senja

                                                                                                   Kota Garam, 19 Februari 2015
#30HariMenulisSuratCinta#Harike-21

Jemarimu masih bungkam?
Mereka masih pura-pura diam
Ayolah,
Siapalagi yang bisa membalut sajak-sajak rindu selain dirimu
Sajak-sajak luka dengan pita merah jambu
kalau bukan kita?

Aku terlalu terbiasa
mengukirkan cinta kepada sajak-sajak
terlebih sajak-sajakmu
ya sayangnya sekarang bisu, kaku

Senja tenggelam
langit berangsur kelam
entah bila larik-larik sajakmu  tak lagi enggan
melukiskan riak-riak merah meriah pada malam

Sayang
Aku sungguh lupa pernah membahasakan hujan
lewat aksara yang hangat?
kau sungguh lupa aku akan selalu ingat?

Sajakmu tetap bungkam
sesal-sesal berjelaga di tenggorokan
aku kini lelah menyuarakanya lewat tangisan dan tulisan
atau sekedar bisikan

Siapa sangka sajakmu mendingin
serupa kopi yang ku aduk tadi pagi dan ku tinggal mandi
mereka kekal amarahmu hanya sisakan pahit getir, kini.


Di senja serupa ini

                                                                                                Kota Garam, 18 Februari 2015

#30HariMenulisSuratCinta#Harike-20

Kala itu
Di senja serupa ini
Tarian jarum-jarum jam yang tajam melakon lebih kejam dari pagi dan siang
Mereka terburu-buru tergesa-gesa menjemput malam
Memisahkan larik-larik dari genggaman tatapan mata kita yang urung terbisikkan




Andai saja salah satu dari kita bisa membujuk mereka agar bisa sedikit lebih ramah,
Lebih berhati murah
Barangkali kini
Di sini
Di senja serupa ini
Nyanyian mereka tidak akan membawa serta getir-getir yang menyiksa

Selasa, 17 Februari 2015

Hujan yang basah

                                                                                           Kota Garam, 17 Februari 2015
#30HariMenulisSuratCinta#Harike-19

Ada yang lebih pilu dari rindu yang tak tersapu
Ialah hujan yang jatuh pada tanah yang salah
Tanah yang telah lebih dulu basah

                                                   Mustahil bagiku tahu, diluar hujan jatuh
                                                   Jika telingaku masih mendengungkan namamu utuh-utuh
                                                   Yang ku tahu, di relunglah hujan kerap turun dan mengguyur

Hujan tidak pernah berkunjung sendirian tanpa teman
Bersama mereka selalu datang sekeranjang kenangan
Pun di kelopak mata yang lebam

Senin, 16 Februari 2015

Senja itu..

                                                                                                        Kota Garam, 16 Februari 2015
#30HariMenulisSuratCinta#Harike-18

Tetaplah disini, bersamaku dan jangan pernah beranjak pergi dari hidupku
Hanya ini yang ku mau, engkau tetap dan menetap disini

Senja itu
Senja yang ku lihat benar-benar sempurna ( di matamu )
Senja yang lalu sempat kelabu
Kau tahu aku hidup kembali karena yang dulu aku sempat mati
Jangan lekas berakhir
Tetaplah seperti ini
Setidaknya aku sadar kamu kembali dan tak pergi lagi

Minggu, 15 Februari 2015

Demi do'a restu

                                                                                             Kota Garam, 15 Februari 2015
#30HariMenulisSuratCinta#Harike-17

Mengapa semua butuh janji
Bukankah cinta datang dari hati
Terus apakah tujuan kita bertemu bila akhirnya takdirestui




Ibu mu berkata padaku " Nak, bisakah kau jaga anak laki-lakiku ini ? "
Aku menjawab " Bu, aku ialah perempuan tak berparas cantik, aku buta bu tak dapat melihat. Aku cacat bu jalanku pun merangak terkadang aku tuli bu, masih pantaskah aku mendampingi anak laki-laki mu?"

Nak, ia mencintaimu. Ibu mohon nak, rasanya kurang lengkap jika kebahagiaan yang ibu berikan tapi ia tak berpendamping hidup dengan perempuan yang ia cintai.

Bu, saya minta maaf bukanya saya tidak mencintainya, tapi bu restu itu harus ada di kedua belah pihak jika ayah dan ibu saya memberi restu dan kemudian hanya ibu saja rasanya kurang afdol bu, maafkan saya bu. Biarkanlah anak laki-laki ibu mendapatkan perempuan yang lebih baik tapi mendapat restu oleh ayahnya. Sekali lagi saya mohon maaf bu.

Nak, kau memang cacat, ibu tahu kau pun buta dapat membedakan yang baik dan yang tidak, jalanmu memang tak sempurna tapi ibu tahu kau berada di jalan Allah SWT dan ibu tahu kau tuli dapat mendengarkan mana yang layak kau dengarkan dan mana yang tidak, maafkan ayah dari laki-laki yang mencintaimu na,k maafkanlah dan ibu minta pergilah dengan anak  ibu yang selama ini ibu rawat dengan baik, pergilah nak tak usah kau hiraukan ibu. pergi nak do'a restu ibu selalu pada kalian..

Sabtu, 14 Februari 2015

Surat cinta seorang lelaki yang mengharap kekasihnya kembali

                                                                                           Kota Garam, 14 Februari 2015

#30HariMenulisSuratCinta#Harike-16

Bahkan untuk menulis 
Aku sudah tidak mampu

Jumat, 13 Februari 2015

Coklat sekarat

                                                                                                  Kota Garam, 13 Februari 2015
#30HariMenulisSuratCinta#Harike-15

Aku pernah melihat mata itu
Mata yang sama seperti saat bertemu pertama kali
Kemarin mata itu kembali ku lihat
Sinar itu masih ada, ya.. sinar mata yang sama masih ada didalamnya
Entahlah mungkin hasrat kembali mendorongku untuk sekali lagi melihat sinar itu berkobar
Suatu sisi disudut ruang dimana tiada yang kukenal sementara mata ini tak lepas
dan entahlah sinar itu benar-benar nyata adanya

Masih berwarna coklat
Masih meneduhkan bahkan membuatku tak karuan
Aku hanya bisa berbisik " Aku sedang sekarat " !!!!!!
Aku kembali sekarat.


Kamis, 12 Februari 2015

Lilin Februari untuk bulan tiga

                                                                                       Kota Garam, 12 Februari 2015

#30HariMenulisSuratCinta#Harike-14

Hujan turun di Februari sangat sempurna
Meninggalkan jejak pada jalan setapak
Dikelokan jalan itu namamu pernah tertulis SEMPURNA
Ketika Tuhan tersenyum
Usiaku 21 saat itu
Saat lagit mulai runtuh
Lalu coba menghidupkan kembali
Lilin 22 di tahun ini
Hangatnya memang tak seberapa
Tapi mampu menghidupkan Februari yang basah

Saat senja
Aku masih ingat semburatnya
Memancar ketika kau tersenyum puas

Sekali lagi dan kulakukan berulang kali
Untuk mengeja namamu " FITRIA SARI "
Dengan 22 lilin di tahun ini 

Semoga hanya bahagia yang ada dihidupmu

Rabu, 11 Februari 2015

Aku ada untukmu

                                                                                                 Kota Garam, 11 Februari 2015
#30HariMenulisSuratCinta#Harike-13

Kau datang membawa kabar
Bahagia katamu dan duka kataku

Kau kembali
Diseberang jalan
Melambaikan tangan " Selamat datang "

*Kita berjumpa kembali*
      
Di situ aku bersama seorang pria (penggantimu)
Kucintai ia seperti aku mencintaimu, dulu

     Sebongkah kekecewaan tampak di ranum matamu
     Tapi apa mau di kata " Nasi sudah menjadi bubur "
      Maka, mau tak mau makanlah bubur itu, tuan.
      Setidaknya agar kau tak lapar

Tapi katamu, tak apa ragamu dimilikinya
Hatimu tetap untuk ku
Aku akan menunggumu
Meski penantian itu berhujung menyakitkan
   
Lelaplah di pangkuanku
Mimpimu menggapai bintang mungkin tak dapat terlaksana
Tapi yakinlah mimpimu akan indah 
Bersama seseorang yang juga memperjuangkan mendapatkan bintang

Ini surat dariku, perempuan yang telah kau abaikan.


Selasa, 10 Februari 2015

Kita berbeda pada akhirnya

                                                                                      Kota Garam, 10 Februari 2015
#30HariMenulisSuratCinta#Harike-12


Kita di tempat yang sama
Menghirup udara yang sama
Hanya saja kotaku dan kotamu berbeda

Berbaliklah kearahku
Jangan kau tinggalkan

Kau segalanya indah yang pernah ku punya

Semua tak berguna dan terbuang sia-sia
Ketika langkah kakimu menjauh pergi
Kau dan aku berbeda

Senin, 09 Februari 2015

Selepas hujan pertaama

                                                                                                   Kota Garam, 09 Februari 2015

#30HariMenulisSuratCinta#Harike-11

Seperti meneteskan dingin yang abadi
Selepas hujan pertama
Di penjuru kota

   Mengikat diri dengan awan
   Maka lengkap sudah
   Bumi dibasuh basah
 
Buaian yang nyaman ini jangan lekas berakhir
Selepas hujan pertama
Kumohon tetaplah seperti ini
Ketika pelukanmu menghangatkan 


Minggu, 08 Februari 2015

Aku, jahat katamu

                                                                                                             Kota garam, 08 Februari 2015
#30HariMenulisSuratCinta#Harike-10

Aku jahat?

Seharusnya memang aku harus jahat padamu
Mengapa tidak, dulu kau pun begitu, bukan?
Seenaknya meninggalkanku

Disebuah meja kayu
Daun-daun yang gugur
dan secangkir teh tawar hangat

   Aku jahat?
Ya, seharusnya jahatku melebihi mu

Dipersimpangan jalan
Kau bilang " kau lebih cantik dari yang dulu"
Ku jawab "memang, karena aku bukan milikmu"

Lagit basah siang itu


Sabtu, 07 Februari 2015

Sebentar saja dan tak akan lama

                                                                                                Kota Garam, 07 Februari 2015

#30HariMenulisSuratCinta#Harike-9


Boleh, aku pinjam bahu kekasihmu?
Tak akan lama, hanya beberapa saat saja
Saat segala dekap pilu terasa lebih baik
Maka, aku akan mengembalikannya kepadamu
*
Boleh, aku pinjam tangan kekasihmu?
Pun tak akan lama, hanya sebentar saja
Saat segala kerinduan pada belai mulai membaik
Aku akan menyerahkannya kepadamu
**
Bolehkah lagi aku meminjam kekasihmu?
Namun, ini akan sedikit lebih lama
Saat segala sepi yang telah lama bergelayut manja pada lengan kehidupanku mulai jenuh menggandengku
Maka, akan kukembalikan dia kepadamu—segera

Jumat, 06 Februari 2015

Aku milikmu malam ini

                                                                                                      Kota Garam,  06 Februari 2015
#30HariMenulisSuratCinta#Harike-8


Gelagat malu yang dibahasan matamu
Sepasang lengan yang berpeluk
dan bibir yang melumat
                Sebongkah rindu yang sempat terabaikan

Melebur menjadi satu dalam kamar

    Malam yang larut, menarik selimut
Dingin mencekam
Detak jantung yang makin cepat
Nafas yang terengah-engah
dan nafsu yang tak berkesudahan
                   Aku milikmu malam ini
Sampai pagi, hingga pagi lagi

Kamis, 05 Februari 2015

Selanjutnya, sudahi saja

                                                                                                      Kota Garam, 05 Februari 2015

#30HariMenulisSuratCinta#Harike-7

Aku minta maaf
Kepadamu perempuanku, yang kini menjadi perempuan orang lain ( sahabatku )
Salahku dulu  menyia-nyiakanmu
Salahku memilih perempuan lain dan meninggalkanmu
Aku rindu padamu...

                     Kau bilang ini rindu
                     Lalu kemana kau saat dulu kurindu 
                     Acuh dan tak mau tau

Aku minta maaf
Menyesal kenapa baru hari ini

                     Maafmu terlambat
                     Ini hati bukan sekedar warung kopi
                     Yang kau singgahi sesuka hati

Aku minta maaf
Ijinkanlah aku memelukmu walau yang terakhir kalinya
Agar aku merasakan cinta ini akan selamanya
                      
                     Ijinlah pada pemiliku
                     Karena aku sudah bukan sepenuhnya milikmu lagi


Aku akan tetap memperjuangkan "selanjutnya"
meskipun kamu berteriak "sudahi saja" +Penagenic Donald 



Rabu, 04 Februari 2015

Maaf, silahkan pergi !

                                                                                           Kota Garam, 04 Februari 2015

#30HariMenulisSuratCinta#Harike-6

Di suatu senja yang basah
" Masihkah, ada cinta untuk ku " katamu.
Ilalang bergoyang tertiup angin, malam mulai menghanyut ketika senja mulai redup
Yang dulu pergi sempat datang kembali
         Engkau kemana ketika aku pontang-panting memperjuangkan kita

         Membisu...

Baru kusadari tiada yang lebih baik darimu, perempuan yang ku sia-siakan
        Lagit seketika runtuh sore itu
Kembalilah aku rindu manjamu, aku rindu belaian hangatmu
       dan aku hanya menjawab :: kembalikan dulu hatiku yang telah kau porah-porandakan.

Selasa, 03 Februari 2015

Kopi dan cangkir yang dingin

                                                                                                Kota Garam, 03 Februari 2015

#30HariMenulisSuratCinta#Harike-5


Pernahkah kau merasakan pagi yang hambar, tuan?
Pagi dengan wangi kopi dari cangkir yang begitu dingin
Seperti kedatangan tanpa perjumpaan.
Saya pernah merasaka, tuan.
          Dikotamu yang begitu dingin
          Nyanyian camar
          Luruh menuju pipiku
Kapan kau pulang ke kotaku?
Halaman rumah telah ku sapu bersih
Dan jejak kenangan  telah ku hapus
Kemarilah dan pulang menuju dadaku



Senin, 02 Februari 2015

Kepastian Hujan

                                                                                                         Kota Garam, 02 Februari 2015

#30HariMenulisSuratCinta#Harike-4

Tuan, masihkah pendar matamu mampu melihat keluar?
Lihatlah mereka jatuh secara bersama membasahi tanah.
Tuan, masihkah telingamu dapat mendengar?
Ada melodi alam yang  mengiringi kerinduan paling dalam
Samar terdengar, sebuah bongkah dan hancur berantakan.
Mereka menyebutnya : Hati ( yang perih )
Tuan masihkah lagi kau rasakan?
Aku memanggilmu di tengah jatuhnya hujan
Menunggu tak kenal waktu hanya untuk sebuah kepastianmu
Jemu bukanlah aku tuan
Mohon beri sidikit penerang agar menunggumu tak terlalu membosankan
Aku hanya tahu : Kamu peluk ternyaman dari segala hangat yang menghangatkan.

Minggu, 01 Februari 2015

Karena, yang romantis itu tidak pernah ada

                                                                                              Kota Garam, 1 Februari 2015

#30HariMenulisSuratCinta#Harike-3

Selamat datang Februari...
 


Bertemu di tahun ini,
Kata orang kau romantis tapi tidak kataku.
Kau biasa saja seperti bulan sebelum dan sesudahnya.
Entahlah kenapa, aku pun tak tahu.

Februari, banyak yang memuja-mujamu karena kau mungkin begitu special di mata mereka
Ya ... Kau pemilik 28 hari di tahun ini, cukup singkat tapi sekali lagi tidak bagiku.

Orang bilang kau pun pemilik hari kasih sayang yang biasanya di sebut Valentine Day pada tanggal 14 mendatang, biasanya para muda-mudi merayakanya dengan pasangan, tak terlebih teman maupun orang tuanya sekedar memberi coklat, bunga dan atau dsb.

Sekali lagi tapi itu tidak berlaku buatku. KARENA YANG ROMANTIS TIDAK PERNAH ADA.