Kamis, 12 November 2015

Musim semi yang kau janjikan, tak pernah ada

Jika aku tak salah menghitung
ini mungkin ke tigakalinya musim semi beramokan tubuhmu

Pernahkah kau coba perhatikan, Tuan
Hampir saja aku lupa seperti apa bau tengkukmu,, kala itu
Hampir lupa kecupan hangat senja yang selalu melumat habis bibirku
Kalau saja kau tak bilang bahwa senja tinggal di dua bola matamu
mungkin aku tak akan sesedih itu, kehilanganmu
Aku ingat kita pernah melewati senja dengan roda motormu yang memutar
Ketika itu sore mulai layu
Barangkali ingatanku tak sebagus yang aku kira
Buktinya aku lupa
kapan terakhir kali senja jatuh di senyumku
Saat kau melingkarkan lenganmu di perutku


Kota Garam, 12-11-15

 

Rabu, 11 November 2015

Tuhan Maha Asyik

Kepada :
Pemilik bola mata coklat yang meneduhkan

Kita pernah sama-sama saling menemukan dan pada akhirnya kita pun sama-sama meninggalkan.
Inilah Tuhan, kuasanya memang benar-benar dasyat dan mengagumkan.
Dulu saya pikir dunia itu luas, ketika saya mencari sosok partner hidup.
Saya hampir menemukan apa yg saya cari, namun sayangnya bukan sepenuhnya adapadanya, walau kesempurnaan itu tidak pernah ada pada manusia ciptaan-Nya.
Lalu masa itu datang, masa dimana kita sama-sama lelah, masa dimana harapan itu mulai layu
Padahal dimana yang aku kira hanya sebatas kehilangan ternyata lebih mengerikan dari yang aku bayangkan.
Meninggalkan hanya dengan alasan berjalan sendiri-sendiri, itu sangat menyakitkan
Kau tahu tak ubahnya mencoba melupakan setiap detail lekuk tubuhmu, itu sulit sekali
Beberapa aroma manja kerap kali sering datang ketika tidur lelapku
Percaya atau tidak mungkin saat kamu mencium bibir kekasih barumu kau membayangkan itu aku
Nyatanya sekenario Tuhan itu asyik, maha asyik.
Hai, pemilik bola mata coklat yang meneduhkan? kau baik-baik saja bukan, saat ini kau bersamaku lagi
mencicipi setiap ruang dengan kecupan hangat, menemani setiap sapaan mantari dengan perempuan yang kau idamkan
Dan pada matamu aku jatuh cinta berkali-kali berulang kali

Selamat bahagia Fastabiqul Khoir