Rabu, 25 Maret 2015

Jauh sebelum pagi meranum

Kalau saja hujan tak turun terlalu pagi,
Mungkin masih sempat aku bertutur padamu
Tentang asa yang ku punya
Tlah tertinggal di ujung senja
Menguap bersama datangnya gelap
Dan aku hanya bisa duduk bersandar
Pada dinding malam yang dingin
Sambil mendengar jangkrik bernyanyi
Menghiasi mimpi-mimpi

Kalau saja hujan tak turun terlalu pagi
Mungkin masih sempat aku berlari
Menuntun pesan dari matahari
Dan berharap kau takkan pergi
Tapi aku bisa apa?
Karena hujan tlah turun
Jauh sebelum pagi meranum

Jumat, 20 Maret 2015

Tentang kamu

Ada yang terang selain matahari ,kamu.
Ada yang gelap selain hitam,kehilanganmu.
Ada yang kejam selain pembunuhan,merindumu.
Ada yang punya jarak terjauh selain jutaan tahun cahaya,masa lalu.
Aku bernapas diantara aromamu yang tertinggal.
Hidup bersama kegelisahan kehilangan kabarmu.
Langkahku tersesat di jalanan yang seharusnya kuhafal.
Tubuhku lunglai padahal aku sehat.

Rabu, 18 Maret 2015

Apa dan kenapa?

Usai sudah musim kedua,
purnama lupa masa
laut lepas, badai samar-samar
di pantai tersisa memar
istana pasir hilang rupa
landai, ceruk menganga
kepiting-kepiting menyusur liang
mutiara terdampar, hilang cangkang
nyiur melambai, langit biru membentang
segala-gala hanya tentang apa
Apa yang luput apa yang sangkut
apa yang surut apa yang sengkarut
menyimpan apa di lelaku sapa
merunduk bagi apa? Untuk apa?
Hujan mungkin akan tiba, mengirim dingin, menghujam gigil
hujan mungkin akan tiba dengan air bah dan pasukan pengail
lalu longsor menimbun sepotong jalan yang terbelah
kemudian apa?
Musim kering datang dengan kereta berkuda
yang berpasang-pasang kakinya memintal debu jadi selimut,
jadi kelambu, memalsukan kabut
tanah rekah, petani resah
kipas-kipas di tangan, di plafon, di dinding, semesta lelah
Lalu kenapa?
Bukankah ini tak yang pertama?
Kemudian apa?
Takkan apa-apa; takkan pernah
Ini bukan kisah sedih, hanya dongeng semata;
Tidurlah!

Selasa, 17 Maret 2015

Senja, malam dan kamu

Senja bertanya pada malam,
‘kapankah aku mampu menunggu tanpa ragu?
tanpa pesan kegelisahan yang membatu?’

Lalu malam menjawab,
‘kau akan selalu menungguku,
namun yakinlah,
takdir tak pernah salah menjodohkan aku dan kamu’
Lalu aku,
tiba-tiba saja menggelisahi…

Sabtu, 14 Maret 2015

How Can I Hope...


Saat surat ini dibaca, sudah pasti aku tak lagi ada di tempat di mana surat ini ditemukan. Beberapa kalimat ini mungkin bisa menjadi penjelas mengapa aku tak lagi ada di situ, sekarang.
Aku tak pernah meminta gaun cantik, pun handphone canggih keluaran terbaru. Aku tidak setiap minggu pergi ke salon, pun tak pernah menghabiskan uang hanya karena diskon. Aku tak pernah meminta untuk dimanja, diperhatikan lebih, dispesialkan, dijadikan emas. Aku hanya meminta kebebasan untuk memilih. Apa yang aku yakini benar.
Maaf jika aku pergi tanpa pamit.

***

“how can I hope for something I had never known of ?”
Jelaskan padaku, bagaimana kita bisa mengharapkan sesuatu yang kita tidak pernah “kenal” ? tidak pernah “mengenal” kita ? sedangkan cinta, sudah cukup membuat lelah, tetapi tiba-tiba mengirimkan energy dahsyat, yang bisa mempengaruhi semuanya.. kekuatan yang mampu merubah segelanya. yaa, ini.. pahit akan terasa manis. sempurna cara Tuhan mengendalikan, menata dunia agar semua serasi.. terbagi rata.. hasil dari apa yang pernah kita tanam sebelumnya. 
Aku ingin memberi sedikit sanggahan, kau bisa dengar dan pertimbangkan?
Tolong, ingatlah juga akan detik jarum jam dinding yang gagu karena habis daya. 
Aku telah 'menghabiskan' semuanya agar sampai disini, dan begini saja yang kau tunjukan padaku?
Lalu bagaimana lagi harus memperjuangkanmu, bagaimana dengan dayaku? 
Kapan kau menyadari betapa ini tidak adil bagiku ?


Rabu, 11 Maret 2015

Selamat bahagia, fi

Kepada angka 11

Terimakasih, kita kembali lagi bertemu di tahun ini
Tepatnya di usia 22 tahun ku
Tak ada harapan yang lebih
Hanya beberapa bait do'a yang sempat aku panjatkan
dan diaminkan oleh orang-orang di sekitarku.

Selamat bahagia FITRIA SARI

Minggu, 01 Maret 2015

Ini Senja Yang SEMPURNA

Senja yang SEMPURNA ku lihat sore tadi
Di sebuah bening yang jatuh menuju pipiku
Sapu tangan biru milikmu
Kau tawarkan padaku

   Ini senja yang pernah kulihat dengan sempurna di bola matamu
   Ini senja yang pernah kulihat dengan sempurna di lengkung senyumMu

Dan ini janganlah lekas berlalu, sayangku ....