Saat surat ini dibaca, sudah pasti aku tak lagi ada di tempat di mana surat ini ditemukan. Beberapa kalimat ini mungkin bisa menjadi penjelas mengapa aku tak lagi ada di situ, sekarang.
Aku tak pernah
meminta gaun cantik, pun handphone
canggih keluaran terbaru. Aku tidak setiap minggu pergi ke salon, pun tak
pernah menghabiskan uang hanya karena diskon. Aku tak pernah meminta untuk
dimanja, diperhatikan lebih, dispesialkan, dijadikan emas. Aku hanya meminta
kebebasan untuk memilih. Apa yang aku yakini benar.
Maaf jika aku
pergi tanpa pamit.
***
“how can I hope for something I
had never known of ?”
Jelaskan padaku, bagaimana kita
bisa mengharapkan sesuatu yang kita tidak pernah “kenal” ? tidak pernah “mengenal”
kita ? sedangkan cinta, sudah cukup membuat lelah, tetapi tiba-tiba
mengirimkan energy dahsyat, yang bisa mempengaruhi semuanya.. kekuatan yang
mampu merubah segelanya. yaa, ini.. pahit akan terasa manis. sempurna cara
Tuhan mengendalikan, menata dunia agar semua serasi.. terbagi rata.. hasil dari
apa yang pernah kita tanam sebelumnya.
Aku ingin memberi sedikit sanggahan, kau bisa dengar dan pertimbangkan?
Tolong, ingatlah juga akan detik jarum jam dinding yang gagu karena habis daya.
Aku telah 'menghabiskan' semuanya agar sampai disini, dan begini saja yang kau tunjukan padaku?
Lalu bagaimana lagi harus memperjuangkanmu, bagaimana dengan dayaku?
Kapan kau menyadari betapa ini tidak adil bagiku ?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar